THOUSANDS OF FREE BLOGGER TEMPLATES

Thursday, 31 March 2011

personal project: Detective Potter

WM's Note: ini punya Espi, gw post disini buat iseng. Oh ya, translatenya lagi dikerjain, mungkin agak lama, banyak kerjaan soalnya =__="

________________________________

By: Panci "Kitchen Band" a.k.a Espi N

Genre: Friendship, Romance

Rated: T

Pairing: DraMione (maybe)

Disclaimers: Semuanya milik tante J.K. Rowling, saya cuma minjem XD

Warning: OOC, EYD berantakan, gajeness, garing

A/N: Fic pertamaku yeyeyeye! *plokplokplok* iseng iseng aja sebenernya, maaf kalo critanya aneh. Butuh kritik dan sarannya.

Edited! karena yang kemaren berantakan banget =="

________________________________

Namaku Harry Potter, Harry James Potter lengkapnya. Kalian bisa memanggilku Harry, Potter, atau apapun yang kalian suka, tapi jangan pernah memanggilku Kepala Pitak, ingat itu!

Perawakanku biasa saja, terlalu kurus malah untuk remaja putra seusiaku. Aku menggunakan kacamata—bukan! Mataku benar benar minus tau! Apa mungkin keturunan dari ayahku? Oh sudahlah, lupakan saja.

Banyak yang bilang bahwa wajahku tampan tapi sebagai seorang Gryffindor, aku tidak pernah membanggakan itu. Aku mempunyai rambut hitam yang selau berantakan, yang membuat banyak orang bertanya padaku apakah aku tidak pernah menata rambut, tapi toh aku tidak peduli. Satu hal yang paling membuatku bangga adalah karena keahlianku menangkap Snitch. Tak usah iri padaku, setiap orang punya keahlian masing masing, jangan khawatir!

Aku mempunyai 2 sahabat, mereka adalah Ronald Bilius Weasley dan Hermione Jean Granger. Ronald atau lebih sering disapa Ron adalah anak dari keluarga Weasley, berambut merah, dia adalah Keeper di tim Quidditch Gyffindor.

Hermione atau lebih sering disapa ‘Mione adalah gadis kelahiran Muggle dengan tingkat kecerdasan diatas rata rata atau bahkan melebihi Darah Murni sekalipun. Dia terpilih menjadi Ketua Murid Putri di Hogwarts.

Dan tebak siapa yang menjadi Ketua Murid Putra? Bukan! Bukan aku, Ron, atau bahkan yang lain. Dia adalah Draconis Alexander Orion Malfoy, Pangeran Es dari Slytherin. Kalian pasti sudah mengenalnya bukan?

Tidak? Okelah kalau begitu, kuberi sedikit gambaran tentangnya. Dia adalah Seeker dari Slytherin, sama sepertiku. Kulitnya pucat dan memiliku rambut platinum yang, well, harus kuakui memang lebih bagus dibandingkan miliku (tentu saja!). Badannya sedikit lebih tinggi dariku dan wajahnya harus kuakui juga, setingkat lebih tampan dariku.

Ngomong ngomong tentang Ketua Murid, ya so pasti Mione dan Draco tinggal di satu asrama khusus Ketua Murid. Tidak, mereka tidak tidur sekamar. Tenang saja kalian fans-fans Mione. Akan kupastikan kalau si Malfoy itu tidak akan berani macam-macam!

Sebenarnya aku mempunyai satu misi tersembunyi, yaitu menanyai–menginterogasi tepatnya- Malfoy mengenai satu hal dan aku amat sangat yakin akan hal itu. Dan misiku itu akan kujalankan malam ini.

____________________________________

Malam Hari


Aku mengendap-endap menuju ruang bawah tanah dengan mengenakan Jubah Gaib warisan ayahku, menuggu Malfoy keluar dari kelas ramuan.

Dan, yak! Begitu dia keluar, langsung kubungkam dia dengan sapu tangan yang telah diberi campuran ramuan entah apa, salah satu Produk Weasley tentunya.

Dan berhasil! Dia pingsan! Dengan segera aku membawanya ke suatu tempat gelap yang takkan kuberitahukan pada kalian. Jadi maaf maaf saja....

Oke, kembali lagi ke aku dan Malfoy. Setelah pintu dikunci dan kurapalkan mantra kedap suara, aku segera mendudukan Malfoy dan tak lupa mengikatnya dengan tali. Lalu kubangunkan dia dengan penawar yang sudah diberikan Duo Weasley padaku.

“Potter! Apa apaan ini? Lepaskan aku! Dasar Kepala Pitak!”

“Tidak! Dan apa katamu? Sudah kubilang jangan memanggilku dengan sebutan itu!”

“Baiklah, tapi lepaskan aku Potter!”

“Tidak, sebelum kau menjawab pertanyaanku Draco.” Senyum licik menghiasi wajahku.

“Pertanyaan apa, Potter? Jangan membuang-buang waktuku!”

“Draco, bisakan kau memanggilku dengan nama depanku?"

“Oke, oke Pot- Harry.”

“Emm, langsung saja, oke? Apakah kau menyukai Hermione, Draco? Jawab yang jujur!”

“A-apa?! Pertanyaan bodoh macam apa itu, Harry? Tentu saja tidak, bodoh!”

“Apa kau yakin, Draco? Aku sering melihatmu mencuri curi pandang ke arah Hermione ketika sarapan di Aula Besar, dan wajahmu selalu tampak lebih hidup saat kau menatap matanya.”

“Ka-kau pasti salah lihat Harry,” kata Draco dengan nada yang dibuat sedatar mungkin.

“Tidak Draco! Aku tak mungkin salah lihat! Draco, Mione mempunyai mata yang indah, eh?”

“Tidak juga,” kata Draco datar.

“Kalau rambutnya?”

“Rambutnya? Oh Demi Merlin! Apa menurutmu Granger punya rambut yang indah? Rambutnya lebih terlihat seperti semak-semak bagiku, Harry!”

“Bagaimana kalau senyumnya Draco? Tidakkah dia punya senyum yang menawan?”

“Cukup, Harry! Aku tidak peduli dengan Mudblood seperti dia! Matanya, rambutnya, atau bahkan senyumnya! Senyum yang selalu dia berikan kepada hampir seluruh murid Hogwarts!” kata Draco ketus.

“lalu kenapa Draco, kau iri?"

“Cih! Untuk apa aku iri? Dia Mudblood dan kau harus ingat itu, Harry!”

“Ya, aku tahu dia hanya seorang Mudblood. Mudblood yang mempunyai senyum yang menawan dan membuat jantungmu berdetak lebih cepat...”

“. . .”

“Kenapa, Draco? Kenapa diam? Kau menyukainya bukan?"

“YA! AKU MENYUKAINYA! AKU DRACONIS ALEXANDER ORION MALFOY MENYUKAI HERMIONE JEAN GRANGER! PUAS KAU POTTER?! DAN, YA! AKU MENYUKAI MATANYA, SENYUMNYA, RAMBUTNYA DAN AKU MENYUKAI SAAT AKU BERADA DIDEKATNYA!!”

“Wow! Pengakuan yang bagus Malfoy, dan ada satu hal lagi yang ingin aku tunjukan kepadamu. Hermione! Keluarlah, sudah kubilang, dia menyukaimu!” teriakku sambil tertawa.

“Ma-mal-malfoy, benarkah itu semua?” tanya Hermione dengan nada tak percaya setelah keluar dari salah satu pojok ruangan.

Kulihat tubuh Draco kaku, wajahnya pucat, bahkan lebih pucat dari biasanya.

______________________

"Tidak! Tidak boleh! Apa jadinya jika seorang Malfoy dipermalukan oleh seorang Potter didepan seorang Mudblood? Mau ditaruh dimana mukaku ini! Betapa bodohnya kau Draco!” rutuknya dalam hati.

“Err, ya itu semua benar, dan... err, Hermione, maukah kau menjadi err…”

“Oh ayolah Malfoy! Cepatlah,” kataku tak sabar

“Baiklah baiklah, err, Mione, maukah kau menjadi pendampingku?”

“Tentu saja Malfoy!” jawab Hermione dengan nada –pura pura- sebal.

“Well, akhirnya harapan Prof. Dumbledore untuk membuat asrama Gryffindor dan Slytherin berteman akan terwujud. Oh, ya! Jam berapa sekarang? Sudah hampir jam malam. Ayo Hermione kita kembali ke Ruang Rekreasi,” kataku dengan santai, berjalan perlahan sambil mengajak Hermione tanpa memperdulikan tatapan dingin dari sang Pangeran Es.

“Hey! Mau kemana kalian? Jangan seenaknya pergi setelah apa yang kau perbuat padaku! Potter! Arrghh! Lepaskan aku! Dasar Kepala Pitak!" teriak Draco dari dalam.

“Bersenang senanglah disana, Draco!” balasku sambil tertawa.

_____________________________________

Apa aku terlalu kejam mengurungnya disana dalam keadaan terikat? Oh sudahlah, ternyata asyik juga bisa menjahili Tuan Sok Dingin itu. Dan, apa benar yang terjadi barusan? Draco benar benar menyukai Mione?

Demi Celana Merlin! Dunia memang sudah gila!


END

0 comments: